Folgentius menilai konsep “Literasi Kopi Malaka” merupakan ide cerdas yang memadukan budaya lokal dengan edukasi masyarakat.
Menurutnya, kopi bukan hanya sekadar komoditas atau minuman penghangat di pagi hari, tetapi juga menjadi ruang sosial tempat masyarakat berkumpul, berdiskusi dan bertukar gagasan.
“Melalui program ini, aktivitas mengopi diubah menjadi ruang belajar yang inklusif,” katanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menambahkan, program tersebut tidak hanya menyediakan akses buku bacaan berkualitas di tempat-tempat berkumpul warga, tetapi juga menghadirkan diskusi, bedah buku dan ruang dialog publik mengenai berbagai isu yang berkembang di Kabupaten Malaka maupun Indonesia secara umum.
Selain itu, program Literasi Kopi Malaka juga dinilai mampu menjadi sarana pemberdayaan generasi muda agar lebih produktif, mencintai budaya literasi dan bangga terhadap potensi daerah sendiri.
“Ketika literasi didekatkan dengan cara yang menyenangkan seperti lewat budaya kopi, sekat-sekat kaku dalam belajar akan runtuh. Kita ingin memastikan bahwa anak-anak dan masyarakat di tapal batas ini memiliki kesempatan yang sama untuk memperluas cakrawala dunia, menyongsong Indonesia Emas,” ungkapnya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













