Peraih Nobel Ekonomi, James J. Heckman, dalam teorinya mengenai investasi sumber daya manusia menegaskan bahwa investasi pada usia dini memberikan tingkat pengembalian sosial paling tinggi dibandingkan investasi yang dilakukan pada usia dewasa. Walaupun teori tersebut banyak diterapkan dalam bidang pendidikan, prinsip yang sama juga relevan dalam pembinaan olahraga. Semakin dini karakter, disiplin, kepemimpinan, kerja sama, dan budaya kompetisi ditanamkan, semakin besar peluang lahirnya generasi yang unggul. Dalam konteks itulah, konsentrasi Pemerintah Kabupaten Malaka terhadap sepak bola layak dicermati sebagai sebuah kebijakan pembangunan manusia jangka panjang. Indikasinya terlihat dari dukungan terhadap pembinaan usia dini, pengembangan SSB di berbagai kecamatan, peningkatan kapasitas pelatih, hingga penyelenggaraan kompetisi yang menjadi ruang seleksi bagi talenta muda. Prestasi yang mulai bermunculan hari ini dapat dipandang sebagai hasil awal dari investasi tersebut.
Kabupaten lain di Nusa Tenggara Timur sebenarnya juga memiliki tradisi sepak bola yang kuat. Kabupaten Ngada, misalnya, dikenal melahirkan banyak pemain berbakat yang tampil di berbagai kompetisi. Lembata pun memiliki antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap sepak bola. Potensi mereka tidak diragukan. Namun, tantangan yang masih dihadapi banyak daerah adalah bagaimana membangun pembinaan yang benar-benar berkelanjutan sejak usia dini. Tanpa kompetisi yang rutin, akademi yang aktif, pelatih yang terus ditingkatkan kapasitasnya, dan jalur pembinaan yang jelas hingga level senior, potensi besar itu sering kali sulit berkembang secara maksimal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













