Di sinilah Malaka mulai menunjukkan arah yang berbeda. Kabupaten ini tampaknya sedang berusaha membangun sebuah mata rantai pembinaan yang tidak terputus anak-anak direkrut melalui SSB, dibina dalam kelompok umur, diuji lewat kompetisi lokal, dipromosikan ke tim daerah, lalu dipersiapkan menuju level yang lebih tinggi. Model seperti inilah yang selama puluhan tahun diterapkan oleh negara-negara dengan tradisi sepak bola kuat. Tentu perjalanan masih sangat panjang. Menjadi juara regional bukanlah garis akhir. Tantangan berikutnya justru lebih besar, yakni menjaga konsistensi pembinaan agar tidak berhenti setelah satu generasi berhasil. Sejarah sepak bola dunia menunjukkan bahwa mempertahankan sistem jauh lebih sulit daripada memenangkan satu kompetisi.
Namun, jika konsistensi itu mampu dijaga, Malaka sesungguhnya sedang menempuh jalan yang sama seperti yang pernah ditempuh Jepang tiga dekade lalu atau Jerman setelah reformasi sepak bolanya. Bukan jalan yang menjanjikan hasil instan, tetapi jalan yang membangun fondasi kokoh bagi lahirnya generasi-generasi baru. Karena itu, keberhasilan PS Malaka U-12 hendaknya tidak dipandang hanya sebagai kemenangan sebuah tim, melainkan sebagai sinyal bahwa pembinaan yang dirancang dengan baik mulai menunjukkan hasil. Jika model ini terus dipertahankan, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan akan lahir lebih banyak pemain asal Malaka yang mampu bersaing di level nasional, bahkan menembus kompetisi profesional Indonesia dan internasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













