Pelajaran yang sama kini mulai tampak di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.
Keberhasilan PS Malaka U-12 menjuarai Festival Grassroot Piala Presiden Zona NTT 2026 bukanlah sebuah keberuntungan sesaat. Prestasi tersebut merupakan buah dari proses pembinaan yang dalam beberapa tahun terakhir mulai dibangun secara lebih terarah melalui pembentukan Sekolah Sepak Bola (SSB), pelatihan pelatih, kompetisi usia dini seperti Bupati Cup, serta kesempatan bertanding secara berjenjang hingga tingkat regional dan nasional. Yang lebih menarik lagi, seluruh pemain yang memperkuat PS Malaka, mulai dari kelompok umur U-12 hingga tim senior, merupakan putra asli Kabupaten Malaka. Fakta ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah gelar juara. Ini menunjukkan bahwa Malaka mulai membangun ekosistem sepak bola yang bertumpu pada potensi daerah sendiri, bukan bergantung pada pemain dari luar.
Dalam perspektif ilmu pembangunan olahraga, kondisi seperti ini menunjukkan bahwa daerah mulai bergerak dari pendekatan berbasis hasil (result oriented) menuju pendekatan berbasis sistem (system oriented). Ketika sistem bekerja dengan baik, prestasi akan datang sebagai konsekuensi logis, bukan sekadar keberuntungan. Tentu saja, tidak semua orang akan sepakat. Selalu ada perdebatan mengenai prioritas anggaran daerah. Ada yang berpendapat bahwa pemerintah seharusnya lebih memfokuskan diri pada pembangunan infrastruktur, pendidikan, atau sektor ekonomi dibandingkan olahraga. Pandangan seperti itu sah dan perlu dihargai. Namun, melihat pembinaan sepak bola hanya sebagai urusan mengejar trofi adalah cara pandang yang terlalu sempit.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













