Menurut Fransiskus, metode ini jauh menyimpang dari tata cara penunjukan adat yang penuh makna dan spiritualitas.
“Sekarang, kita bingung mau ikuti adat yang mana yang dulu atau yang sekarang. Maka kita kembalikan lagi ke yang asli supaya bisa diwariskan dengan benar ke anak cucu kita,” tambahnya.
Ia juga mengkritisi bagaimana simbol-simbol adat seperti “Wesei Wehali” saat ini hanya menjadi nama tanpa nilai budaya yang mendalam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Para tokoh adat menegaskan bahwa Kabupaten Malaka, khususnya Wesei-Wehali, adalah pusat budaya yang memiliki pengaruh sosial dan historis luas.
Mereka mengingatkan bahwa sejak tahun 2007 hingga 2014, berbagai upaya pelurusan adat belum berhasil karena tidak berlandaskan nilai adat yang murni.
“Yang dinobatkan jadi Raja, Loro, atau Fukun seharusnya melalui proses adat, bukan sembarangan. Kita tidak melarang siapa yang mau dinobatkan, tapi mari kita luruskan agar sesuai adat,” ujar Fransiskus.
Pertemuan ini menjadi titik awal refleksi bersama agar semua pihak kembali pada nilai-nilai adat yang murni.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













