Dalam forum tersebut, sejumlah pemangku adat mengungkapkan keprihatinan terhadap lunturnya nilai-nilai adat asli yang selama ini diwariskan secara turun-temurun.
Mereka menekankan bahwa pelurusan kembali struktur adat harus dilakukan sesuai dengan warisan nenek moyang, bukan disesuaikan dengan praktik modern yang menyimpang.
Fransiskus Seran, perwakilan dari Umah Knua Wesei Wehali, menjelaskan secara rinci struktur adat tradisional yang menjadi fondasi kebudayaan masyarakat Wehali.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menyebutkan bahwa sistem adat tersebut terdiri dari Ferik Hat dan Katuas Hat Aintasi, empat pasangan tua laki-laki dan perempuan, serta peran wilayah adat seperti Kfauhun, Hat Laran, Hat Molin, Hat Motaulun, dan Hat Motain.
Semua ini bermuara pada struktur kepemimpinan empat Loro, yaitu Loro Dirma, Loro Lakekun, Loro Wewiku, dan Loro Haitimuk.
“Selama ini kami jalankan apa yang kami lihat dari leluhur. Kami tidak pisahkan ini dan itu, karena kami warisi secara turun-temurun,” tegas Fransiskus.
Kekhawatiran mendalam juga disampaikan terkait praktik pemilihan pemimpin adat seperti Nain dan Fukun yang kini dilakukan melalui metode voting.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













