Kemenangan yang menghantar mereka ke pentas nasional itu memberi signal kuat betapa melekatnya anak-anak Malaka dengan sepakbola.
Momentum juara itu kemudian dibaca dengan bijak oleh pelatih saat itu, dr. Ch. Dion Bria Seran untuk segera membidik tunas-tunas muda dalam upaya regenerasi dan pembinaan mental yang harus dipupuk sedari awal.
Hari ini dokter Dion kembali membuktikan betapa anak-anak muda Malaka memiliki bakat dan kemampuan dalam mengolah bola.
Pasukan Manu Meo junior (U-13 & U-15) sedang bertarung di Kompetisi Soeratin Cup 2025. Jika sepakbola yang positif seperti ini sudah dimulai sejak dini, maka suatu saat kita akan mendapati anak-anak Malaka bisa bersaing di pentas nasional bahkan internasional.
Sepakbola menangkap esensi semangat dan kegembiraan yang melampaui lapangan hijau dan sekadar peluit akhir wasit.
Sekalipun menjadi juara adalah sebuah puncak tetapi sebagain besar legenda sepakbola sepakat, juara itu hanyalah sebuah siklus.
Sepakbola lebih besar dari juara. Sepakbola adalah hidup, setiap iramanya dibutuhkan nafas dan keseimbangan dalam bergerak. Mari bergerak terus untuk sepakbola Malaka yang lebih baik.



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













