“Kita tidak perlu berlomba untuk menang, tetapi untuk kembali menghidupkan budaya kita sebagai orang Noemuti, terutama tarian olibai dan gong yang hampir punah,” ujar Ferdinandus.
Ia juga menekankan pentingnya regenerasi budaya melalui keterlibatan anak-anak dan kaum muda agar warisan leluhur tetap hidup dan berkembang di tengah zaman modern.
Rangkaian kegiatan menyambut 100 tahun Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus Noemuti menjadi momentum sakral dan historis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Umat lingkungan St. Fransiskus Asisi Oe’ekam tidak hanya merayakan usia gereja, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan iman mereka sebagai bagian dari komunitas Katolik yang berakar pada tradisi lokal.
Melalui kolaborasi antar umat dan pemerintah desa, perayaan ini diharapkan menjadi contoh keberhasilan sinergi antara iman dan budaya dalam merawat warisan spiritual dan kebudayaan lokal.***


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













