Kepala Desa Kletek menekankan pentingnya kesadaran dari para anak-anak yang telah putus sekolah, bahwa masa depan mereka sangat tergantung pada pendidikan.
Ia juga menyampaikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar, terlebih dengan adanya jalur pendidikan nonformal seperti sistem Paket A, B, dan C.
“Anak-anak belum terlambat karena pemerintah menyediakan pendidikan formal dan nonformal. Mereka bisa melanjutkan pendidikan di beberapa PKBM yang ada di Malaka,” ucapnya penuh harap.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
PKBM di Kabupaten Malaka menyediakan tiga jenjang program kesetaraan: Paket A: Setara dengan SD, Paket B: Setara dengan SMP dan Paket C: Setara dengan SMA.
Program ini tidak hanya fleksibel, tetapi juga dirancang untuk memfasilitasi anak-anak dan warga masyarakat yang terhalang mengikuti pendidikan formal karena faktor ekonomi, sosial, atau geografis.
Kolaborasi antara pemerintah desa, pihak akademisi dari Undana, dan lembaga PKBM menjadi contoh nyata sinergi dalam membangun pendidikan yang inklusif.
Semangat gotong royong ini menciptakan harapan baru, bahwa anak-anak Malaka yang sempat kehilangan akses pendidikan kini mendapat kesempatan kedua.
Inisiatif yang digagas oleh dosen dan mahasiswa Undana Kupang bersama PKBM ini menjadi bukti bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama.
Kepedulian dari Kepala Desa Kletek dan intervensi nyata melalui Dana Desa menjadi harapan baru bagi 148 anak putus sekolah di wilayah tersebut.
Semoga semangat perubahan ini menular ke desa-desa lain di Malaka dan NTT secara umum, sehingga tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan untuk belajar.***


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













