Opini Reflektif : Pengabdian dan Pengawasan Demokrasi di Wilayah Perbatasan NKRI
Oleh: Hilarius Bria Suri
JALAN SUNYI SEORANG PENGAWAS PEMILU
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
TIMORNESIA.COM-Di tapal batas negeri ini, kami berdiri dalam diam. Jauh dari pusat perhatian, namun dekat dengan makna kesetiaan.
Tak ada sorot lampu dan gemuruh tepuk tangan. Yang kami jaga hanyalah merah putih dan suara rakyat sering kali tanpa saksi.
Menjadi Bawaslu di wilayah perbatasan bukan sekadar menjalankan tugas. Ia adalah jalan sunyi yang dipilih dengan sadar. Jalan yang dipenuhi keterbatasan jarak, fasilitas, dan akses. Namun di sanalah pengabdian diuji dan dimurnikan.
Kami mengawasi demokrasi dari tempat-tempat yang jarang disebut.
Dari desa-desa dengan sinyal yang tak menentu, dari perjalanan panjang yang melelahkan, dari malam-malam senyap tanpa sorotan.
Dalam kondisi seperti itu, yang tersisa hanyalah sumpah jabatan dan nurani, dua hal yang tak boleh padam.
Di perbatasan, demokrasi diuji tanpa kamera dan tanpa panggung.
Hanya ada aturan yang harus ditegakkan, keberanian untuk bersikap jujur, serta keyakinan bahwa satu suara rakyat betapapun kecil dan jauh adalah kehormatan bangsa.
Halaman : 1 2 Selanjutnya

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













